Kenangan oh Kenangan

Terjumpa lagu ini di You Tube. Masih segar di ingatan, walau lama benar tak dengar. Melodi, lirik dan suara yang unik. Anna Mathovani dengan Band Zainal Combo. Lagu ciptaan Jessy Wenas.

Antara Pria dan Wanita

Bila jejaka berkata,
Hidupnya penuh duka,
Waspadalah wahai wanita,
Dia telah jatuh cinta.

Kita lari dikejarnya
Kita kejar dia lari,
Tapi dalam sinar matanya
Dia tak mungkin berdusta.

Priya dan wanita,
Inginkan kasih sayang,
Tapi dalam caranya bebeda.

Sanyum selalu mulanya,
Didalam perkenalan,
Tapi ditengah kemesraan
Mungkin muncul perpisahan.
——————————————

Priya dan wanita,
Inginkan kasih sayang,
Tapi dalam caranya bebeda.

Sanyum selalu mulanya,
Didalam perkenalan,
Tapi ditengah kemesraan
Mungkin muncul perpisahan.

Teringat Zaman Dulu Dulu


Dalam keheningan malam waktu bersahur, entah bagaimana lagu ini terlintas disanubari. Teringat zaman dahulu diakhir tahun lima puluhan dan awal enampuluhan. Sumber hiburan utama ketika itu ialah radio. Itu pun rumah aku sendiri tiada radio. Jadi mencuri curi dengar dekat kedai runcit. Lagu “Kisah Malam di Jalan Lembang” jarang jarang dapat didengar. Namun sangat teruja bila sekali sekala mendengarnya terutama liriknya yang penuh misteri. Dimana Jalan Lembang ini? Tempatnya bagaimana hanya dapat dibayangkan.
Kini taip saja tajuk dekat YouTube, lalu terus dapat mendengar lagunya. Boleh pula google di mana Jalan Lembang dan makna lembang itu sendiri. Dapat kita menikmati perceritaan oleh lirik yang puitis. Untungnya dapat hidup hingga ke zaman dipenuhi teknologi moden.
Dengar lagu ciptaan Saiful Bahari dengan senikata oleh Saleh Suwita dibawakan oleh biduanita Reno dan biduan Kontjo Lama

Kisah Malam Di Jalan Lembang

Kisah ku bagai nan lalu,
Pahit terasa hempedu,
Ku nanti nantikan di kau datang,
Dengan hati risau kacau.

Penat sudah ku menghajat,
Lalu lintas Jalan Limbang
Di kau saja kunjung datang,
Ah, nasibku malang.

Speda kumbang lalu,
Bedebar hatiku,
Ku sangka juwitaku,
Beca yang berpacu,
Ku kira kau singgah,
Kesuma hatiku

Angin malam lalu,
Menyapakan daku,
Dimanakah kah kasihku
Nun jauh disana,
Cahaya bintang malam,
Merajuk dan merayu

Unggas belalang gelak ketawa,
Ku tertipu gadis jelita,
Nyanyi bahagia,
Ternyata hampa belaka

Malam hayal bila ku kenang,
Airmata derai berlinang,
Demikian kisah,
Kisah malam di Jalan lembangL
———————————————

Unggas belalang gelak ketawa,
Ku tertipu gadis jelita,
Nyanyi bahagia
Ternyata hampa belaka

Malam hayal bila ku kenang,
Airmata derai berlinang,
Demikian kisah,
Kisah malam di Jalan lembangL

Burung Tukang

Memecah kesunyian malam (9)
Burung tukang berbunyi (12)
Nadanya kasar berulangan (10)

Ditengah sunyi malam ketika bulan terang kita mungkin mendengar satu bunyi yang jelas, berulang ulangan dalam nada yang kasar. Bunyinya seakan orang orang mengetuk benda keras “tok-tok-tok’ atau tang-tang-tang. Kalau kita cuba mencari arah datangnya bunyi itu, kita akan gagal melihatnya, mungkin sekadar percaya ia datang dari atas pokok berdekatan.

Itulah bunyi bunyi burung tukang. Ia aktif di malam hari. Di waktu siang ia berada di sarangnya yang biasanya pada timbunan daun diatas tanah didalam semak. Namun begitu warnanya yang samar dan menyerupai persekitaran ia berada membuatkan ia sukar dikenali. Kita  munkin dapat melihatnya ketika ia terbang bila terserempak dengannya.

Bunyi Burung Tukang direkod dalam video berikut:

The Voyager Returns

HAIKU

The beach palm, morning glory,
Seagulls and sandpipers,
Welcome the voyager home.

On a visit to the Indonesian Island of Lombok, I sat on the beach with an elderly fisherman talking wistfully about his son who went away and has yet to come back. All along , the beach was lined by clumps of pandanus palms while morning glory creepers covered the sand. Sandpiper birds ran at the water’s edge while gulls were in flight. Its a scene that would not be forgotten.

perantau pulang
The voyager steps foot on the beach

 

Migrant Workers from Indonesian Island of Lombok

Childhood Memories

HAIKU

Sunny afternoon breeze,
Padi leaves rustling,
In clear water, gouramis play.

Sepat Haiku
Drawing by Kalthom Omar
I was reminded of a moment when I was young (early 1960s). I often went to our padi field. While walking on the raised path between the plots during the season when the rice plants were about to flower, I could hear the leaves rustling in the soft afternoon breeze. In between the clumps of padi stalks I could see orange and blue gouramis play in the clear water. 

There are many types of gourami fish. The ones found in the padi field are called dwarf gouramis. Bigger gouramis are called ‘Ikan Kaloi” in Malaysia.
While most people will think of them as aquarium fish, in South East Asia we consume them as food.

Abdollah Salleh