Through the Stillness of the Night

HAIKU

“Constant roar of the wind,
Rustling leaves on swaying trees,
Fills the moonlit night”

These Haiku verses surfaced in my mind when I woke up in the middle of the night and sat on the verandah of a chalet at Pasir Belanda, in Kelantan State on the East Coast of Peninsular Malaysia. It was the season when the wind blew strongly from the sea. The sound made by the wind and the rustle of the palm leaves as the coconut trees sway, broke through the stillness of the night. The sounds came and went as the speed of the wind alternates between that of a storm to that of a breeze. The brightness of the moonlight also waxes and wanes as clouds pass over the full moon.
I am filled with nostalgia, whenever the memory returns.
Angin menderu

The atmosphere reminds me of an old song, 

sang again by the singer Sudirman Haji Arshad.

The original lyric and my translation of it is as below:

VERSI BAHASA

Alangkah Indahnya Alam

Angin berbunyi
Dipohon kelapa
Membawa berita
Khabar yang jauh

Sambil menyanyi
Berbisik apa?
Betapa indahnya
Jika ku tahu
Alamkah indahnya alam

Terang benderang
Cerah cuaca
Bersulam sulam
Awan melindungi
Alamkah indahnya alam

Hatiku riang
Tambah bahagia
Menikmati alam
Yang indah ini
Alangkah indahnya alam

Alangkah indahnya alam

ENGLISH VERSION

How Beautiful is this World

The sound of the wind
Among the coconut trees
Brings me news
From far away

While it sings
What does it whisper?
Those nice words
How good if only I know
Oh what a beautiful world

How resplendent is the light
In the clear weather
Waxes and wanes
Hidden by the clouds
Oh what a beautiful world

My heart is happy
Filled with tranquility
Enjoying the beauty
Of this world
Oh what a beautiful world

Oh what a beautiful world.

The Original Song was witten by R. Maroeti and sung by Juwita accompanied by  Dendang Kelana Orchestra led by Maroeti.

ABOUT

cropped-cropped-nelayan-2.png

ENGLISH VERSION

ABOUT THIS BLOG

I am putting here my thoughts regarding various subjects and issues of interest to me and that I know something about

I hope it will be of interest to you. Please feel free to make comments.

The menu “Home” will show all posts in chronological order. Posts can also be viewed by category.

PENGENALAN

Kampung Halaman

VERSI BAHASA

MENGENAI BLOG INI

Melalui Blog ini yang ingin menyampaikan pendapat serta pengalaman saya mengenai beberapa isu dan perkara yang saya minati dan tahu sedikit sebanyak mengenainya.

Harapnya ianya juga menarik bagi anda. Berikan apa jua komen anda untuk manfaat bersama.

Menu “Laman” memaparkan semua pos mengikut kronologi. Pos juga boleh dipilih mengikut kategori.

Dari Jazz ke Keroncong

Lagu “Semua Bisa Bilang” ciptaan Charles Hutagalung dan dipopularkan oleh Jack Lesmana dalam rentak jazz dimain semula dalam rentak keroncong oleh kumpulan Kir Brothers dengan begitu baik.

Setiap perkataan dalam lirik lagu ini disebut dengan ringkas bersesuaian dengan kerancakan rentak aslnya iaitu rentak jazz yang memerlukan ungkapan pendek pada setiap baris. Namun pada saya, ayat ayat padat itu kerkesan kerana ia menceritakan tema biasa mengenai cinta, yang tidak perlu diperjelaskan.

Kalau kau benar benar sayang padaku,
Kalau kau benar benar cinta,
Tak perlu kau katakan semua itu,
Cukup tingkah laku.

Sekarang apalah artinya cinta,
Kalau hanya dibibir saja,
Cinta itu bukanlah main mainan,
Tapi pengorbanan.

Semua bisa bilang sayang,
Semua bisa bilang,
Apa artinya sayang,
Tanpa kenyataan.

Kalau kau benar benar sayang padaku,
Kalau kau benar benar cinta,
Tak perlu kau katakan semua itu,
Cukup tingkah laku.

Lagu asal berentak jazz nyanyaian Margie Segers

Lagu asal dari Charles Hutagalung

Penemuan Tak Disangka

Entah bagaimana terjumpa lagu ini yang di sumbangkan P’Dhede Ciptamas61  di You Tube pada 20 Ogos 2019.

Versi asal ini cipataan P Hutabarat dinyanyikan oleh Nien Lasmana dengan iringan Orkes Kelana Ria dibawah pimpinan Oslan Hussein.

Versi yang saya ingat adalah dari nyanyian Jamal Muhamad atau lebih dikenali sebagai Jamal Kerdil, penyampai, penyanyi dan pelawak di RTM sekitar tahun 60han. Baru kini mengenal penyanyi asal lagu ini.

Melodi dalam rentak jazz perlahan dan liriknya sungguh berkesan membawa suasana kesepian dan kesedihan.

“Bila duduk termenung, jauh di malam sepi,
Mengenangkan nasib murung, nan menimpa di diri,
Mana jauh sanak kandung, tiada teman sejati,
Guna tempat ku berlindung, dan menyandarkan diri

Rasa sedih dan duka, bagai menyesak dada,
Kerna tak sorang pun mahu, mendekat menolong ku.
Oh angin nan sedang lalu, sebab apa begini,
Datang suaranya selalu, Itu kan hilang nanti”.

Abdollah Salleh